Perencanaan DAS Sebagai Daerah Pengujian Hidrologi


Basin atau Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu satuan wilayah ekosistem yang dibatasi oleh topografi punggungan pemisah air (water divide), dan berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan dan penyalur air, sediment, unsur hara dalam system sungai yang kesemuanya keluar melalui outlet tunggal. Saat ini permasalahan DAS pada bagian hulu berupa masalah sosial (tingkat pendidikan rendah, kemiskinan, pertumbuhan penduduk, ketersediaan lapangan kerja, dll) yang berpotensi mengganggu kelestarian lingkungan DAS. Di dalam DAS terdapat masukan berupa hujan dan terjadi proses penguapan, aliran, infiltrasi, simpan air, erosi, longsor lahan, pelapukan, pengangkutan dan pengendapan sedimen, aliran energi serta dinamika penduduk. Keluaran bersifat alami berupa hasil air, hasil sedimen, unsur hara dan kimia yang terangkut oleh limpasan, sedangkan yang bersifat non alami berupa hasil pembangunan, yaitu : Pendapatan Asli Daerah, tingkat kesejahteraan masyarakat, serta produktivitas lahan. Keluaran DAS yang bersifat negatif seperti: banjir, kekeringan, pengendapan sedimen, degradasi lahan, pencemaran tubuh perairan, dan pencemaran udara.

Dengan perkembangan geoinformasi sajian dalam SIG dapat berupa manipulasi data yang berupa spasial serta data yang berupa atribut, serta mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan memodelkan suatu 3D permukaan. Berbagai kepentingan yang berkaitan dengan sumberdaya air dapat dianalisa dan dimodelkan,  misalnya seperti saluran air, konsentrasi aliran air, akumulasi aliran air, arah aliran air permukaan, wilayah pengendapan, zonasi satuan Sub DAS (Daerah Aliran Sungai), serta daerah dataran banjir yang semuanya memberikan informasi DAS guna dilakukan pengkajian.

Studi pengujian DAS merupakan penyelidikan keadaan sebenarnya suatu DAS di alam, untuk kemudian dilakukan modifikasi sehingga karakter hidrologi daerah penelitian tersebut dapat dipelajari. Dalam penelitian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait dan kepentingannya terhadap obyek yang dikelola tersebut, untuk mencapai suatu keserasian tujuan, memadukan setiap usaha, pemanfaatan penataan dan pemeliharaan.

Pengumpulan data primer melalui survei lapangan, antara lain meliputi survei lokasi penempatan untuk penelitian hidrologi. Berdasarkan peta jaringan sungai, peta topografi, dan peta data prioritas hidrologi untuk masing-masing lokasi penelitian air. Tiga macam prioritas hidrologi, yaitu meliputi prioritas jumlah air, sedimen dan kontinuitas. Dari peta prioritas hidrologis dipilih lokasi-lokasi prioritas yang paling tinggi dan diberikan plot lokasi pada peta jaringan sungai, lokasi tersebut merupakan titik pelepasan dari DAS yang memiliki batas. Penentuan lokasi-lokasi kebutuhan air dengan stratifikasi tingkat prioritas hidrologis yang lebih rendah dengan letak disebelah hilir daerah yang memiliki prioritas.

Kegiatan lapangan yang dilakukan meliputi analisis  : Geomorfologi (pengamatan bentang alam, pengukuran kelerengan) ; Litologi (deskripsi batuan penyusun, susunan batuan penyusunnya) ; Struktur geologi (pengukuran strike dip dan aspek struktur lainnya ) ; Tanah hasil pelapukan batuan (berdasarkan suatu asumsi bahwa suatu jenis batuan menghasilkan tanah lapukan yang seragam) ; Pengukuran debit air sungai ; Pengamatan kualitas air permukaan secara fisik , kimia dan pengambilan contoh air ntuk uji laboratorium ; Pengukuran infiltrasi ; Pengukuran koefisien permiabilitas.

Peta pembagian sub DAS di dasarkan atas peta jaringan sungai dan peta topografi. Pemilihan sub DAS dapat diperoleh berdasarkan peta tingkat perkembangan desa, kekritisan komoditi, bahaya erosi/lahan rusak, prioritas jumlah air, prioritas sedimen, prioritas kontinuitas dan pembagian sub DAS, yang kemudian peta-peta tersebut di overlaykan dan dipilih calon sub DAS pengujian yang mempunyai stratifikasi prioritas kekritisan hidrologis yang tinggi. Persyaratan yang diperlukan dalam experimental basin meliputi terdapatnya tempat yang memenuhi syarat bagi stasiun pengamat arus sungai, mudah dicapai, dan topografi yang stabil.

 

DAS Welaran (Puguh D. Raharjo, 2009)

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu alat yang efisien dalam pengumpulan data dasar, pengolahan dan analisa, dan penyajian data yang berupa spasial, serta penilaian tentang sumber daya air dengan tujuan teknologi keruangan yang tepat, cepat dan terintegrasi. SIG dalam menyajikan dan memanipulasi data dapat berupa manipulasi data yang berupa spasial serta data yang berupa atribut. SIG mempunyai kemampuan untuk menyimpan dan memodelkan suatu 3D permukaan sebagai DEM, DTM atau TIN. Berbagai kepentingan yang berkaitan dengan sumber daya air dapat dianalisa dan dimodelkan seperti misalnya, saluran air, konsentrasi aliran air, akumulasi aliran air, arah aliran air permukaan, wilayah pengendapan, zonasi satuan Sub DAS, serta daerah dataran banjir. Peralatan uji geologi ; Palu geologi, loupe, kompas dan bahan kimia ; Peralatan pengukuran kualitas air: pH meter, EC meter, Temp, TDS ; Peralatan uji akifer: bor tangan, roll meter ; Peralatan uji peresapan air kedalam tanah ; doble ring infiltometer ; Peralatan uji debit air: current meter, stop-watch ; Alat tulis, kamera ; serta seperangkat alat komputer lengkap dengan program pemetaan merupakan sarana yang harus dipenuhi dalam mencari eksperimental basin. Data primer yang digunakan meliputi pengambilan data sifat fisik dan kimia tanah, kimia air, jenis batuan, jenis penggunaan lahan, pengukuran sedimentasi dan erosi, data curah hujan, sedangkan data sekunder yang digunakan berupa data hidrologi, peta geologi, peta tanah, peta erodibilitas tanah, dan peta RBI.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2010. Perencanaan DAS Sebagi Daerah Pengujian Hidrologi

https://puguhdraharjo.wordpress.com/2010/12/12/perencanaan-das-sebagai-daerah-pengujian-hidrologi/

Referensi :
Saifudin, Puguh Dwi Raharjo ; 2009. Perencanaan Das Welaran Sebagai Daerah Pengujian Hidrologi, Prosiding Simposium Geoinformasi I, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta 17 – 18 November  2009, Halaman 191 – 196, ISBN 978-979-98521-3-7

About this entry