Kajian Deskriptif Karakteristik Kesesuaian Lahan Pesisir


Sandy beach land including is dynamic marginal land. Southern coastal region at Purworejo and Kebumen District is an area of potential in the development of agriculture, tourism, and industry. Land use of this  area as agricultural, fisheries, animal husbandry, tourism, also as industrial activities of iron sand mining. This study aimed to determine characteristics of existing coastal land terrain, so it is expected to be used as a land evaluation. The results of this area divided into 3 (three) Zoning. Zone 1 is the area that has high potential for iron sands, has been mined and should be reclamation for positive impact in terms of social and environmental. Zone 2 is the area with high potential for iron sand, physically has the potential for development in agriculture and tourism (agro tourism). Zone 3 has low iron sand, complex region with a relatively more dense settlements, good accessibility, with agriculture irrigation  and tourism sites which have been managed, so that all sectors needed a further development.

 

Pesisir Lembupurwo Kab. Kebumen (Puguh D. Raharjo)

Lahan pantai berpasir termasuk lahan marjinal yang bersifat dinamis. Kawasan pesisir selatan Kabupaten Purworejo dan Kebumen merupakan wilayah potensial  dalam pembangunan sektor pertanian, wisata, maupun industri. Penggunaan lahan di sepanjang pesisir digunakan sebagai lahan pertanian, perikanan, peternakan, wisata, serta terdapat juga aktivitas industri berupa penambangan pasir besi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi karakteristik lahan kawasan pesisir sesuai peruntukannya saat ini sehingga dapat digunakan sebagai arahan dalam penggunaannya. Berdasarkan hasil kajian, lokasi penelitian dikelompokkan menjadi 3 (tiga) zona. Zona 1 merupakan kawasan dengan potensi pasir besi tinggi, telah dilakukan penambangan, perlu reklamasi sehingga akan memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif.  Zona 2 merupakan kawasan dengan potensi pasir besi tinggi, secara fisik potensial untuk pengembangan bidang pertanian dan wisata (Agrowisata). Zona 3 merupakan kawasan dengan potensi pasir besi rendah, komplek, pemukiman lebih padat, aksesibilitas baik, pertanian dengan irigasi teknis serta lokasi wisata yang telah terkelola sehingga semua sektor diperlukan suatu pengembangan lanjut.

Lahan pantai berpasir termasuk lahan marjinal yang bersifat dinamis. Pada lahan ini terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin ke arah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi semakin marjinal, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Kondisi lahan yang marjinal tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik semata yang secara alami kurang mendukung untuk dilakukan tindakan budidaya, tetapi juga upaya penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang akan terjadi akan semakin luas. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002 tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; dan UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir pantai yang kaya akan SDA dan jasa lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda. Pemanfaatan lahan pantai berpasir berfungsi untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis (Harjadi, 2009).

Masalah pokok yang dihadapi negara-negara sedang berkembang seperti di Indonesia ini untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya adalah bagaimana mengelola dan memelihara sumberdaya alam yang dimiliki sehingga sumberdaya alam tersebut dapat digunakan secara lestari dan tidak merusak lingkungan hidup. Perencanaan penggunaan lahan yang baik harus disesuaikan dengan kemampuannya. Dengan evaluasi lahan dapat diketahui tingkat kemampuan lahan sehingga dapat ditentukan lahan mana yang dapat dikembangkan terlebih dahulu dan jenis penggunaan lahannya agar tidak merusak kualitas lahan tersebut (Cahyo, 2007).

 

Profi Pesisir Selatan Kab.Kebumen dan Kab.Purworejo (Puguh D. Raharjo)

Evaluasi dan analisis didasarkan pada peruntukkan wilayah pesisir yang berpotensi untuk kesesuaian lahan, hal ini dilihat dari sudut pandang sarana dan prasarana, pengembangan lahan untuk saat ini, serta potensi-potensi lahan apabila dilakukan suatu pengembangan.

Wilayah penelitian meliputi sebagian Kabupaten Purworejo dan Kebumen dengan lokasi di sekitar pesisir. Wilayah tersebut meliputi Desa Patutrejo, Desa Ketawang, Desa Pranji, Desa Lembupurwo, Desa Munggahharjo, Desa Puliharjo, Desa Kutojaya, Desa Tambakmulyo. Dari lokasi penelitian tersebut yang telah dilakukan penambangan pasir besi berada di wilayah Desa Patutrejo, Desa Ketawangrejo serta Desa Munggahharjo di Kabupaten Purworejo, sedangkan lokasi penelitian yang berada di Kabupaten Kebumen belum pernah terjadi kegiatan penambangan pasir besi.

Kawasan pesisir selatan Kabupaten Purworejo dan Kebumen merupakan wilayah yang berpotensi dalam pengembangan pembangunan sektor pertanian, wisata, maupun industri. Disepanjang pesisir kawasan Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen lahan digunakan sebagai lahan pertanian, kecuali di sebagian daerah Kabupaten Purworejo yang telah dilakukan penambangan. Pada Kecamatan Patutrejo dan Ketawangrejo lahan di kawasan pesisir sebagian besar talah dilakukan suatu penambangan pasir besi mulai dari tahun 1982 dan berakhir pada tahun 2007.

Daerah bekas penambangan dilakukan suatu reklamasi yaitu dengan pengalihfungsian penggunaan lahan menjadi sawah irigasi yang semula berupa cekungan dengan kedalaman ± 8 meter, dengan masa panen mencapai 2 kali dalam setahun. Selain pertanian sawah pada lahan yang tidak bisa digunakan untuk tanaman padi, masyarakat menggunakan lahan untuk tanaman semangka, jagung, dan sayuran.

Adanya kesamaan dalam jenis penggunaan lahan kebun/ladang yaitu dengan tanaman semangga, jagung, sayuran, lombok. Perbedaan yang mencolok adalah luasan dan besaran gumuk pasir yang ada di sekitar pantai, semakin ke barat (wilayah Kebumen) gumuk pasir semakin rendah serta produktivitas lahan semakin baik, hal ini terlihat dari vegetasi baik pertanian maupun non pertanian di wilayah Kebumen lebih rapat serta jenis penggunaan lahannya juga semakin beragam, dengan tekstur tanah sudah ke arah geluh. Lingkungan yang terbentukpun pada bagian barat sudah mencerminkan adanya kestabilan lokasi.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2010. Kajian Deskriptif Karakteristik Kesesuaian Lahan Pesisir

https://puguhdraharjo.wordpress.com/2010/12/12/kajian-deskriptif-karakteristik-kesesuaian-lahan-pesisir/



About this entry