Aplikasi Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Dalam Identifikasi Kerentanan Bencana Alam


Natural disaster is an event that threatens and causes environmental damage. As well as floods and landslides are common events that often occur in Indonesia. Karangsambung is Geological Nature Preserve contained a wide range of rock where the formation process starting from the bottom of the ocean to the continental margin.  Natural disasters are frequent in this region in the form of landslides (mass movement) and flooding. The purpose of this study is to investigate the disaster-prone areas in Karangsambung Geological Nature Preserve using the method of the survey approach and the approach with geographical information systems (GIS). In the identified research areas of high movement is generally composed by the lithology of volcanic rocks (breccias and sandstones Waturanda Formation), rocks in the Complex anxious that has undergone intensive weathering and information. Areas that often floods occur in fluvial landform that is on alluvial and fluvial plains located at the Karangsambung and Banioro Village.

Bencana alam merupakan suatu kejadian yang mengancam dan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Seperti halnya banjir dan longsor merupakan kejadian yang umum sering terjadi di Indonesia. Karangsambung merupakan Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung yang terdapat beraneka ragam batuan dimana proses terbentuknya mulai dari dasar samudera hingga ke tepian benua. Bencana alam yang sering terjadi pada kawasan ini yaitu berupa tanah longsor (gerakan massa/tanah) dan banjir. Tujaun penelitian ini adalah untuk mengetahui wilayah rawan bencana di Kawasan Cagar Alam Geologi karangsambung dengan menggunakan metode pendekatan survei dan pendekatan dengan sistem informasi geografis (SIG). Pada wilayah penelitian yang teridentifikasi gerakan tinggi umumnya tersusun oleh litologi batuan vulkanik (breksi dan batupasir Formasi Waturanda), Batuan di Komplek Melang yang telah mengalami pelapukan yang intensif dan lanjut. Wilayah yang sering banjir terjadi pada bentuklahan fluvial yaitu pada dataran alluvial dan dataran fluvial yang lokasinya berada di Desa Karangsambung dan Desa Banioro.

Menurut UU 24/2007, bencana dapat didefinisikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Berdasarkan sumber dan penyebabnya, bencana dapat dibagi dua, yaitu bencana alam dan bencana non alam. Yang termasuk dalam bencana alam adalah segala jenis bencana yang sumber, perilaku, dan faktor penyebab/pengaruhnya berasal dari alam. Banjir, tanahlongsor, gempabumi, erupsi gunungapi, kekeringan, angin ribut dan tsunami adalah contoh – contoh bencana alam. Sedangkan yang termasuk dalam bencana non alam antara lain bencana sosial (teror, konflik dalam masyarakat), kegagalan teknologi dan wabah penyakit (BAPEDA DIY 1, 2008).

Menurut Marfai2 (2007) bencana alam merupakan suatu kejadian yang mengancam dan mengakibatkan kerusakan lingkungan, bencana alam terjadi di seluruh dunia, dampaknya sangat besar terhadap perkembangan suatu negara seperti di Indonesia bencana alam sering terjadi, banjir dan longsor merupakan kejadian yang umum terjadi dalam kaitannya dengan intensitas hujan, frekuensi gempa bumi, kecuraman lereng, serta formasi geologi yang lemah. Menurut Sutikno3 (2007) Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap berbagai tipe bencana alam, seperti erupsi gunung api, gempa bumi, dan tsunami karena Indonesia merupakan pertemuan dari tiga lempeng tektonik (lempeng Eurasian, India-Australia, dan Pasifik), diantara dua samudra (Pasifik dan Indian) dan diantara dua benua (Australia dan Asia). Sementara itu efek dari proses fisik dan social-masyarakat juga memberikan kontribusi bencana alam setiap tahunnya.

 

Data Citra Penginderaan Jauh (Puguh D. Raharjo)

Bencana alam yang sering terjadi pada kawasan dataran tinggi umumnya berupa tanah longsor (gerakan massa/tanah) dan banjir bandang (fast flood). Gerakan massa merupakan terminology umum semua proses dimana masa dari material bumi bergerak oleh gravitasi baik lambat atau cepat dari suatu tempat ke tempat lain. Proses gerakan tanah dipengaruhi oleh faktor/parameter penggunaan lahan, kemiringan lereng, ketebalan lapisan tanah, dan stratigrafi/geologi  (Zuidam7,1983). Banjir merupakan suatu peristiwa alam yang sering terjadi pada saat ini, terutama ketika musim penghujan. Air hujan yang menjadi aliran permukaan akan mengalir dan menuju pada sistem drinase, sungai atau area-area permukaan yang lebih rendah. Banjir disebabkan oleh banyak faktor namun secara umum banjir disebabkan oleh sebab alami (curah hujan, pengaruh fisiografi, erosi dan sedimentasi, kapasitas sungai, pengaruh air pasang, perubahan kondisi DAS) dan banjir yang diakibatkan oleh tindakan manusia, yaitu antara lain adalah, kawasan kumuh, sampah, drainase lahan, bangunan air, kerusakan bangunan pengendali banjir serta perencanaan sistem pengendali banjir yang tidak tepat (Kodoatie8, 2002).

Banjir sangat dipengaruhi oelh adanya limpasan yaitu dimana air hujan sebagai input utama melintas pada permukaan dan menuju saluran sungai, ketika sungai tidak mampu menampung aliran air karena distribusi dan kecepatan limpasan maka akan menyebabkan terjadinya luapan sungai. Menurut Seyhan9 (1977),  secara fisik lahan faktor DAS yang mempengaruhi limpasan antara lain :

a. Ukuran dan tinggi tempat rata-rata DAS ; d. Tipe tanah ;
b. Topografi (bentuk, kemiringan, dan gatra DAS) ; e. Vegetasi ; dan
c. Geologi (permeabilitas dan kapasitas aquifer) ; f. Kerapatan drainase

Keragaman-keragaman dalam banjir sebagai fungsi peubah-peubah daerah aliran sungai berdasarkan kondisi fisik lahan yang menyebabkan banjir antara lain : DAS berukuran kecil, bentuk DAS bulat, lereng DAS terjal, vegetasi penutup gundul, wilayah perkotaan, tidak ada kolam/danau, kerapatan drainase tinggi, dan permeabilitas tinggi. Dam, 1973 (dalam  Seyhan9, 1977).

Menurut Karnawati10 (2002), faktor penyebab gerakan tanah dibedakan menjadi dua, yaitu Faktor Pengontrol dan Faktor Pemicu. Faktor pengontrol gerakan tanah merupakan fenomena yang mengkondisikan suatu lereng menjadi berpotensi untuk longsor, meskipun pada saat ini lereng tersebut masih stabil. Faktor pemicu gerakan tanah merupakan proses alamiah ataupun non alamiah yang mengubah kondisi lereng dari berbakat/berpotensi bergerak menjadi benar-benar bergerak/longsor. Adapun faktor-faktor pemicu bencana tanah longsor ini meliputi hujan, erosi sungai, getaran (gempa maupun sebab lain) dan aktivitas manusia.

Setiap parameter dalam faktor (ketebalan tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan tipologi lereng/stratigrafi) diberikan nilai berdasarkan tingkat kemudahannya untuk menjadi longsor,  sedangkan setiap faktor juga diberikan nilai bobot kepentingan.

Kenampakan morfologi daerah penelitian dapat dikategorikan menjadi tiga satuan bentukan lahan, yang pertama yaitu bentukan lahan asal proses struktural (endogen) yang meliputi daerah patahan dan daerah lipatan, bentukan lahan asal denudasional yang meliputi daerah-daerah perbukitan sisa, daerah-daerah longsor, serta adalah bentuklahan asal fluvial yang meliputi daerah dataran aluvial. Bentukan lahan asal struktural (endogen) pada kawasan ini meliputi 2 macam yaitu berupa daerah lipatan dan daerah patahan. Daerah lipatan berupa suatu antiklinal yang telah mengalami erosi dan berubah menjadi lembah antiklin yang memiliki material berupa batuan sedimen yaitu batu pasir dan breksi. Sedangkan daerah patahan terdapat di sebelah utara yang merupakan daerah melange (campur aduk).

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2010. Aplikasi Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Dalam Identifikasi Kerentanan Bencana Alam

https://puguhdraharjo.wordpress.com/2010/12/12/aplikasi-data-penginderaan-jauh-dan-sistem-informasi-geografis-dalam-identifikasi-kerentanan-bencana-alam/


About this entry