Kajian Penggunaan Lahan Pada Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis


puguh dwi raharjo .bumiKarangsambung is the geological preserve region where there are many of assorted of rocks. Matter related to the preserve cover natural resources, ecosystem, spatial capability, and management of environment. Landuse is important factor which influences condition on a certain region, all of human interferes, in which permanent resident or keep moving from place to place to all of natural resources and construction resources. In Karangsambung Geological Nature Preserve, the highest classification of landuse is garden, it has 8428, 942 hectare, the smallest classification is resident landuse (building). By using GIS (Geographical Information System) Analyse, convert rock location can be described by understanding landuse condition, existence in topography and unsafe in mass movment. The result can be described integrately, that core reef ; chert ; pillow lava ; serpentinite ; basalt ; numulities limestone with low-mass movement.

Penggunaan lahan merupakan factor penting dalam mempengaruhi kondisi suatu wilayah, segala macam campur tangan manusia, baik secara menetap ataupun berpindah-pindah terhadap suatu kelompok sumberdaya alam dan sumberdaya binaan, yang secara keseluruhan. Pada Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung jenis penggunaan lahan yang paling tinggi adalah jenis penggunaan lahan kebun, penggunaan lahan kebun ini memiliki luas sekitar 8428, 942 hektar dan luasan terkecil merupakan jenis penggunaan lahan terbangun non-pemukiman (gedung). Dengan menggunakan analisis SIG lokasi batuan lindung dapat dilakukan analisis yaitu dengan mengetahui kondisi penggunaan lahan, keberadaan dalam topografi serta kerawanan dalam gerakan tanah. Dari hasil dapat d diskripsikan secara terintegrasi bahwa batugamping terumbu, rijang, lava bantal, serpentinit, lava basalt, batugamping numulities berlokasi pada daerah dengan gerakan tanah rendah.

Lahan merupakan suatu wilayah tertentu di permukaan bumi meliputi semua benda penyusun biosfer yang dapat dianggap bersifat menetap atau berpindah berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, meliputi atmosfer, tanah, topografi, air, tumbuhan, binatang, serta akibat-akibat kegiatan manusia pada masa lalu maupun sekarang yang semuanya memiliki pengaruh nyata terhadap penggunaaan lahan oleh manusia pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. (vink, 1975) 1

Sedangkan penggunaan lahan merupakan segala macam campur tangan manusia, baik secara menetap ataupun berpindah-pindah terhadap suatu kelompok sumberdaya alam dan sumberdaya binaan, yang secara keseluruhan disebut lahan, dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan baik material maupun spiritual, ataupu kebutuhan kedua-duanya.(Malingreau, 1978) 1

Kerusakan sumberdaya lahan dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan lahan sehingga akan menyebabkan kerugian-kerugian dalam masyarakat, seperti misalnya banjir, kekeringan, tanah longsor, pendangkalan sungai. Wilayah Karangsambung merupakan wilayah yang fenomenal dimana daerah tersebut terdapat berbagai macam jenis batuan, yaitu kelompok batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf yang tersingkap di daerah ini. Iklim tropis dalam kawasan menyebabkan terjadinya pelapukan yang intensif. Pada musim kemarau daerah ini sangat panas dan banyak partike-partikel tanah yang terurai sehinga ketika terjadi musim penghujan partikel-partikel tanah tersebut tererosi dan terendapkan di sungai Lukulo yang merupakan sungai utama di kawasan ini. Permasalahan alam terjadi tidak hanya disebabkan oleh faktor fisik lahan, akan tetapi sosial juga mempengaruhi keadaan tersebut. Akibat permasalahan ekonomi kondisi masyarakat semakin terdesak, sehingga keadaan alam terganggu keseimbangannya. Fungsi-fungsi lahan sudah tidak pada tempat yang sesuai. Masyarakat mulai menggunakan tempat-tempat yang tidak dianjurkan untuk pemukiman, seperti bantaran sungai, dan juga menebangi hutan secara besar sehingga ekosistem berubah fungsi dan menimbulkan dampak lingkungan.

Dalam perkembangan mengenai pengelolaan sumber daya alam informasi spasial sangat dibutuhkan, yaitu dengan melakukan pemodelan-pemodelan ataupun analisis data. Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu penyajian data yang berupa keruangan dengan tujuan tertentu. Keluaran yang berupa data keruangan (peta tematik) yang disajikan dapat berupa data yang telah dilakukan analisis dan juga data keruangan yang masih memerlukan suatu analisis secara visual. Selain faktor fisik kerusakan lahan juga disebabkan oleh faktor sosial budaya masyarakat, ketika masyarakat sudah terbentur dengan kebutuhan maka sumberdaya alam yang ada (bahan galian) di eksploitasi baik penambangan batuan ataupun penambangan-penambangan dari material endapan sungai. Desakan kondisi sosial masyarakat juga mempengaruhi desakan lahan, salah satunya ditujukan adanya perubahan peruntukkan penggunaan lahan yang berkaitan dengan vegetasi. Semakin lama kerapatan vegetasi semakin berkurang sehingga akan menyebabkan peningkatan aliran permukaan dan penurunan air tanah. Tujuan peneilitian ini adalah melakukan diskripsi mengenai inventarisasi batuan lindung dalam kaitannya dengan jenis penggunaan lahan dan kebencanaan gerakan tanah. Dengan menggunakan analisis penginderaan jauh (remote sensing) dan SIG (Sistem Informasi Geografis) maka keterbatasan-keterbatasan mengenai lahan dapat dilakukan pengkajian. Dirasa perlu dilakukan suatu penelitian atau pengkajian mengenai karakteristik fisik lahan daerah Karangsambung sehingga dapat diketahui kondisi wilayah secara terintegrasi dan saling berhubungan.

Penggunaan lahan merupakan salah satu parameter penting dalam mempelajari suatu wilayah. Proses input yang digunakan dalam pemetaan penggunaan lahan berupa bahan data primer yaitu citra/ foto udara. Intepretasi mengenai penggunaan lahan melalui citra/ foto hanya didapat sebatas penutup lahan saja, untuk mengetahui jenis penggunaan lahannya maka digunakan survey lapangan. Dari hasil analisis dengan menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) jenis penggunaan lahan yang ada di Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung berjumlah 11 jenis, yaitu Air Tawar, Permukiman dan Gedung, Sawah Irigasi, Sawah Tadah Hujan, Semak/Belukar, Perkebunan, Tegalan, Rumput, Pasir Darat, dan Hutan.

puguh dwi raharjo

Luasan jenis penggunaan lahan yang paling tinggi di Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung adalah jenis penggunaan lahan kebun, penggunaan lahan kebun ini memiliki luas sekitar 8428, 942 hektar dan luasan terkecil merupakan jenis penggunaan lahan terbangun non-pemukiman (gedung). Penggunaan lahan kebun ini menandakan bahwa pada lokasi penelitian masih merupakan suatu daerah dengan keterbatasan akan lahan pertanian. Sawah irigasi mempunyai penyebaran disekitar sungai utama dengan jumlah jauh lebih kecil dibandingkan dengan sawah tadah hujan yang penyebaran sebagian besar di sekitar lembah antiklin. Penggunaan Lahan jenis semak/belukar memiliki luasan sekitar 1535, 887 hektar dengan sebagian besar penyebarannya di daerah melange (pra tersier), hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh adanya lokasi yang masih berbukit-bukit dan masih banyak terdapat singkapan batuan (bed rock). Pemukiman mempunyai penyebaran yang merata di seluruh kawasan cagar akan tetapi pola yang terbentuk teratur dengan mengikuti keberadaan dari aliran sungai, hal ini menandakan bahwa sebagain besar masyarakatnya masih menggunakan air sungai sebagai memenuhi kebutuhannya, luasan untuk jenis penggunaan lahan ini sekitar 1565, 719 hektar. Jenis penggunaan lahan tegalan terkonsentrasi pada daerah dengan kemiringan lereng yang tinggi, dan sebagain besar berada di daerah melange dengan luasan sekitar 4959, 38 hektar.

Penggunaan lahan yang memiliki luasan lebih dari 5000 hektar hanya meliputi 3 jenis penggunaan lahan, yaitu kebun, tegalan, dan sawah tadah hujan. Ketiga jenis penggunaan lahan ini merupakan jenis pertanian lahan kering, sehingga sebagian besar kawasan ini masih kekurangan sumberdaya air. Hal ini juga terlihat keadaan umum pada sungai lukulo yang merupakan sungai utama yang melintas pada kawasan ini mengalami fluktuasi debit sungai yang tidak menentu, pada musim penghujan debit sangat tinggi dan sering menimbulkan banjir sedangkan pada musim kemarau debit sungai sangat kecil  bahkan anak-anak sungai sering mengalami kekeringan.

Penggunaan lahan yang paling banyak terdapat di wilayah dengan topografi landai yaitu jenis penggunaan lahan sawah tadah hujan dengan luasan sebesar 2288, 124 hektar. Pada kelas kemiringan lereng menengah penggunaan lahan terluas berupa kebun yaitu sebesar 2364, pada daerah bergelombang jenis penggunaan lahan yang dominan berupa penggunaan lahan tegalan sedangkan wilayah dengan perbukitan tinggi penggunaan lahan yang dominan berupa kebun. Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung mempunyai empat tingkatan kerawanan gerakan tanah, yaitu ; kelas sangat rendah seluas 455, 157 hektar ; kelas rendah seluas 623, 820 hektar ; kelas menengah 10909, 024 hektar ; dan gerakan tanah kelas tinggi seluas 12510, 190 hektar. Penggunaan lahan sawah irigasi merupakan jenis penggunaan lahan terluas yang mempunyai kriteria kelas kerawanan gerakan tanah sangat rendah, pada kelas gerakan tanah rendah jenis penggunaan lahan dominan berupa pemukiman, kelas gerakan tanah menengah jenis penggunaan lahan dominan berupa pemukiman, sedangkan pada kelas tinggi jenis penggunaan lahan dominan berupa kebun.

puguh dwi raharjo

Keberadaan lokasi batuan lindung pada Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung diperlukan konservasi agar tercipta kelestarian batuan lindung guna kepentingan ilmiah. Keberadaan batuan lindung terkait dengan karaktersitik lahan dari faktor-faktor penggunaan lahan, kemiringan lereng serta faktor resiko kebencanaan (gerekan tanah), integrasi dari ketiga faktor tersebut memperlihatkan lokasi-lokasi batuan lindung yang sesuai dan dapat diketahui langkah-langkah untuk konservasi lanjut. Hasil dari tumpang susun peta penggunaan lahan, peta kemiringan lereng serta peta gerakan tanah maka dihasilkan 93 satuan yang digunakan dalam menilai kualitas batuan lindung. Berdasarkan zonasi wilayah terhadap batuan lindung. Satuan-satuan wilayah pada lokasi batuan lindung dengan tingkat kerawanan terhadap bencana serta pada jenis penggunaan lahan pada berbagai tingkat topografi. Wilayah batuan lindung yang memiliki tingkat gerakan tanah sangat rendah dan rendah meliputi, rijang merah berlapis di daerah cangkring dengan penggunaan lahan hutan ;  lava bantal dan rijang di daerah Kali Muncar pada jenis penggunaan lahan sawah tadah hujan dengan topografi berbukit ; serpentinit di daerah pucangan pada penggunaan lahan sawah tadah hujan dengan topografi landai ; batugamping numulities di daerah karangsambung dengan topografi landai ; lava basalt di daerah langse dengan topografi datar ; dan batugamping terumbu di daerah jatibungkus. Penempatan satuan ini berdasarkan generalisasi dari hasil analisis spasial sehingga lokasi batuan lindung merupakan poin-poin termasuk dalam kesatuan area. Peta satuan di lokasi CAG Karangsambung.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Kajian Penggunaan Lahan Pada Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung Dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis. https://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/09/07/kajian-penggunaan-lahan-pada-kawasan-cagar-alam-geologi-karangsambung-dengan-menggunakan-sistem-informasi-geografis/


About this entry