Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Potensi Kekeringan


puguh dwi raharjo .bumiThe common definition of droughtness is decrease of water yield or wetness which is temporary and significant under normal level for special time duration. Droughtness have relationship with low rainfall or climate semi-drought, but droughness also happened in area which high rainfall. Kebumen regency is one of regencies in central java which is side-south location. The landuse of agriculture more 50% from total landuse type, more inhabitants depend on agriculture land for working activites. In 2008 ,at the least 26 vilage districts in kebumen are affected by droughtness, inhabitans difficulty to be found water ( to drink and irrigation). That is becaused the discharge of water resources beginning of Lukulo River, Kalibanda River, and Telomoyo River  descending so 2000 hectare of agriculture area be drought and not harvest. Using of remote sensing and GIS be able to identification potential area of drought vulnerability. Transformation with brighness index, wetness index, vegetation index (NDVI) from image processing can detection droughtness from the surface. Other parameter are condition of akuifer, rainfall, landform, and landuse can be  determining factor of droughtness. The result of the research is identified area of Karangsambung, Karanggayam, Sadang, Alian, Puring, Klirong, Buluspesantren, Ambal and Mirit have potential droughness.

puguh pemetaan rawan kekeringanKekeringan secara umum bisa didefinisikan sebagai pengurangan pesediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume yang diharapkan untuk jangka waktu khusus. Kekeringan paling sering dihubungkan dengan curah hujan yang rendah atau iklim semi kering, sementara kekeringan juga terjadi pada daerah-daerah dengan jumlah curah hujan yang biasanya besar. Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang berada di bagian selatan. Penggunaan lahan yang berupa lahan pertanian di Kabupaten Kebumen lebih dari 50% dari total jenis penggunaan lahannya, masyarakat secara umum masih banyak yang menggantungkan mata pencahariannya terhadap lahan pertanian. Tahun 2008 Sedikitnya 26 desa yang tersebar di Kabupaten Kebumen dilanda kekeringan, masyarakat kesulitan air bersih dan air irigasi menyusul menurunnya debit sumber air dan Sungai Luk Ulo, Kalibanda, dan Telomoyo hal tersebut mengakibatkan sekitar 2000 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan dan gagal panen. Penggunaan data penginderaan jauh dan SIG dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi daerah yang rawan kekeringan. Menggunakan transformasi mengenai indeks kecerahan, indeks kebasahan serta indeks vegetasi dapat mengetahui kondisi permukaan dalam hubunganya dengan kekeringan, parameter lain seperti kondisi akuifer, curah hujan serta jenis penggunaan lahan pertanian kering faktor penentu dalam mengidentifikasi kekeringan. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasikan bahwa sebagian Kecamatan di Kabupaten Kebumen yang meliputi Karanggayam, Karangsambung, Sadang, Alian, Puring, Klirong, Buluspesantren, Ambal dan Mirit terdeteksi memeliki potensi kekeringan.

Motode yang digunakan dalam memperoleh hasil adalah menumpangsusunkan parameter-parameter yang berpengaruh terhadap kekeringan dengan menggunakan SIG, sebagai bahan data primer digunakan data citra satelit Landsat TM (thematic mapper). Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain peta digital Kabupeten Kebumen, Citra Landsat TM path/row 120/065, data curah hujan, data geohidrologi, seperangkat alat komputer lengkap dengan program pemetaan data vektor dan pemroses citra digital. Parameter-parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bentuklahan, geohidrologi, curah hujan, serta penggunaan lahan yang berupa lahan pertanian kering. Data-data tersebut di dapat dari bahan data primer berupa citra landsat TM, data sekunder dari penelitian sebelumnya, serta data hasil ceking lapangan

Curah hujan merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan kondisi permukaan dalam sudut pandang sumberdaya air. Hujan merupakan suatu masukan (input) yang akan diproses oleh permukaan lahan untuk menghasilkan suatu keluaran. Wilayah yang mempunyai tingkat curah hujan rendah maka kondisi sumberdaya air baik air permukaan maupun air tanah semakin lama akan semakin menurun, sehingga berpengaruh pada sosial ekonomi masyarakat. Aliran air tanah yang mengalami penurunan akan mengakibatkan masyarakat susah dalam memenuhi kebutuhan hidup, aliran permukaan yang mengalir pada sistem sungai kecil akan berdampak pada kemampuan irigasi.

Curah hujan yang ada di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah menggambarkan adanya variasi,  hujan yang terjadi terbagi menjadi lima kelas, curah hujan 2000 – 2500 mm/tahun dengan seluas 22070,94 km2, penyebaran curah hujan ini terbagi menjadi dua zonasi, zonasi pertama hujan terjadi di daerah dengan jenis bentuklahan pegunungan denudasional dan perbukitan struktural dengan jenis tanah eutrudepts/hapuldals. Isohyet curah hujan pada zonasi yang kedua berada pada kawasan bentuklahan pegunungan denudasional, bukit sisa, dataran kaluvial-aluvial, dataran aluvial, serta beting gisik dengan jenis tanah eutrudepts/ hapludals, endoaguepts/ endoaquent, dan udipsamment/ endoaquents.

Hujan 2500 – 3000 mm/tahun dengan seluas 83352,89 km2 , sebagian besar di Kabupaten kebumen mempunyai curah hujan kelas kedua yang merupakan kelas yang tergolong relatif rendah dari semua kelas yang ada, sebaran pada curah hujan kelas ini juga meliputi topografi datar, landai, wilayah pesisir hingga pada daerah perbukitan. Jenis bentuklahannya meliputi pegunungan denudasional, perbukitan denudasional, perbukitan struktural, bukit sisa, dataran aluvial, perbukitan kapur serta beting gisik dengan jenis tanah eutrudepts/hapludals, endoaguepts/endoaquent, endoaquepts/endoaquepts, eutrudepts/udorthers, hapluduls/dystrudepts, haprendolls/hapludalfs dan udipsamment/endoaquents.

puguh.kekeringan Hujan 3000 – 3500 mm/tahun dengan seluas 23979,09 km2 Isohyet berada pada daerah dengan topografi berbukit sedang sampai tinggi dengan bentuklahan pegunungan denudasional dan perbukitan struktural serta mempunyai jenis tanah hapluduls/dystrudepts, eutrudepts/udorthers, dan eutrudepts/hapludals. Sedangkan curah hujan 3500 – 4000 mm/tahun dengan seluas 1908,24 km2 dan curah hujan 4000 – 4500 mm/tahun dengan seluas 638,48 km2 hanya merupakan kawasan yang kecil dengan topografi berbukit sedang yang berada pada bentuklahan perbukitan struktural dengan jenis tanah hapluduls/dystrudepts. Parameter curah hujan merupakan faktor penentu kondisi permukaan dalam kaitannya dengan sumberdaya air yang mempunyai hubungan pada kekeringan.

Hidrogeologi merupakan bagian dari hidrologi yang mempelajari penyebaran dan pergerakan air tanah dalam tanah dan batuan di kerak Bumi. Pengaruh hidrogeologi dalam kekeringan adalah adanya penyimpanan air dalam lengas tanah ataupun akuifer sehingga kondisi air tanah tidak kontinuitas, suplai air tanah ke sungai (influent) tidak ada dan menjadikan aliran permukaan pada sistem sungai menjadi kecil atau hampir tidak ada. Umumnya batuan yang mempunyai sifat yang tidak lolos air serta daya simpan air yang kecil potensi air tanah yang terkandung pada daerah bersangkutan kecil.

Kondisi hidrogeologi di Kabupaten Kebumen pada dasarnya adalah wilayah yang mempuynayi akuifer produktif, walaupun dengan intensitas setempat sampai penyebaran luas. Kondisi air tanah langka pada wilayah ini sekitar 46905, 78 hektar yang meliputi sebagain Kecamatan Sempor, Karanggayam, Karangsambung, Sadang, Padureso, daerah tersebut merupakan wilayah dengan topografi berbukit. Akuifer dengan produktifitas kecil setempat berada di sebagian Kecamatan Ayah, Gombong, Sruweng, Karanganyar dan Rowokele serta sebagian kecil di Kecamatan Padureso yaitu sekitar 16113,17 hektar, di Kecamatan Ayah akuifer tersebut berada pada zona karst gombong selatan. Penyebaran akuifer dengan produktifitas sedang sampai sempit berada di apit oleh keadaan wilayah dengan akuifer dengan produktifitas kecil setempat yaitu berada di Sebagian Kecamatan Buayan. Akuifer produktif dengan penyebaran luas dan sempit mempunayi luasan yang paling besar, dari bagian tengah ke selatan wilayah  Kabupaten Kebumen mempunyai  tipe akuifer ini, semakin ke arah selatan (laut) akuifer produktif penyebarannya semakin menyempit. Akuifer produktif penyebaran menyempit berada pada daerah pesisir dengan bentuklahan marin sampai fluvio-marin, sedangkan penyebaran dari ekuifer produktif dengan penyebaran luas berada di wilayah dengan tingkat pemukiman yang rapat serta wilayah yang relatif datar.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Aplikasi Teknik Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Identifikasi Potensi Kekeringan. https://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/07/13/aplikasi-teknik-penginderaan-jauh-dan-sistem-informasi-geografis-untuk-identifikasi-potensi-kekeringan/


About this entry