Pengukuran Laju Pengendapan Dalam Penentuan Toleransi Penambangan Sirtu Di DAS Lukulo Jawa Tengah


puguh dwi raharjo .bumiWatershed is unity region of ecosystem limited by topographic and functioning as compiler, dealer of the water along with sediment element in river system. Lukulo Watershed broadly 676 km2,  Rainfall in upperstream watershed have range from 2500 mm/year until 3250 mm/year, and shares of downstream watershed rainfall more or less 2600 mm/year. At rain season discharge of Lukulo river is mounting sharply and very small when dry season. Erosion, sedimentation, floods, dan water availability relevant with physical and socio-cultur factor. Lukulo Watershed located in central java in which experiencing of environmental degradation, the sedimentation of lukulo river is exploited and resulting imbalance of  watershed. The Indication of Lukulo Watershed damage is watched from height level of sedimentation and erosion. This research target to determine mining of sands, so that balance of sands availability and   maximal minings of sands (sirtu) can be observe. Method which used in this research is survey and measurement of sediment, that is with intake of water sampel concidering load suspended and also measurement of river discharge every sub watershed. Parameter for sedimentation measurement is concentration of suspended sediment Cs (mg/l), discharge Q (m3/detik) and discharge of suspended sediment Qs (gr/detik). Method which used in this research is survey and measurement of sedimentation, that is with intake of water sampel concidering load suspended and also measurement of river discharge every sub watershed.Parameter for sedimentation measurement is concentration of suspended sediment Cs (mg/l), discharge Q (m3/detik) and discharge of suspended sediment Qs (gr/detik). From the research result can know that daily sediment load in Lukulo upstream wathersed at the rains October – November equal to 1.438,36 ton/day, while sediment load in one year equal to 194,43 ton/Hectare/year.

DAS merupakan suatu kesatuan wilayah ekosistem yang dibatasi oleh pemisah topografi dan fungsi yang menyusunnya, menyalurkan air dan elemen sedimen pada sistem sungai. DAS lukulo mempunyai luasan sebesar 676 km2, curah hujan di daerah hulu mencapai 2500 – 3250 mm/tahun, dan kurang dari 2600 di daerah hilir. Pada musim penghujan di DAS Lukulo mempunyai debit yang sangat tinggi dan ketika musim kemarau debit yang terjadi sangat kecil. Erosi, sedimentasi, ketersediaan air sangat berhubungan dengan kondisi fisik sosial dan budaya masyarakat. DAS lukulo ini berada di Jawa tengah yang merupakan salah atu DAS yang telah mengalami degradasi lingkungan, eksploitasi sedimen mengakibatkan ketidakseimbangan DAS. Indikasi dari kerusakan DAS Lukulo dilihat dari sudut pandang tingkat erosi dan sedimentai yang terjadi. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui toleransi penambangan (sirtu) di DAS Lukulo dengan tingkat erosi dan sedimentasi yang terjadi. Metode yang digunakan adalah survei dan pengukuran aspek-aspek erosi dan sedimentasi serta pengambilan sampel di DAS anak sungai DAS Lukulo pada saat terjadi konsentrasi tinggi.  Parameter dari sedimentasi  yang diukur adalah konsentrasi sedimen suspended Cs (mg/l), debit Q (m3/detik) dan Debit Sedimen Qs (gr/detik). Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa sedimen load per hari di DAS lukulo hulu pada hujan bulan Oktober – November sebesar 1.438,36 ton/day, sedimen load dalam satu tahun sebesar 194,43 ton/Hectare/year.

Pada saat ini kondisi lingkungan hulu DAS Lukulo telah mengalami degradasi. Tingkat degradasi tersebut ditandai oleh besarnya fluktuasi debit sungai  antara musim hujan dengan kemarau, terjadinya perubahan tata guna lahan, menipisnya permukaan tanah, terbentuknya selokan/parit alami, perubahan vegetasi, kekeruhan dan pengendapan sedimen di sungai, terjadinya gerakan tanah serta kurang tersedianya sumber daya air pada musim kemarau. Tingginya pengendapan pada Sungai Lukulo telah dimanfaatkan melalui aktivitas penambangan pasir dan batu (sirtu), hal tersebut berakibat pada kerusakan lingkungan terutama terjadinya erosi dan gerakan tanah pada tebing sungai, serta terbentuknya lubang-lubang bekas penambangan yang membahayakan. Tingkat kerusakan DAS Lukulo  juga dapat dilihat dari tingkat pengendapan pasir dan batu yang mengindikasikan tingginya tingkat erosi pada bagian hulu DAS.

Analisa laboratorium dilakukan untuk mengetahui jenis dan besarnya pengendapan, sampel yang digunakan dalam analisis ini terdiri dari 6 lokasi di muara anak-anak sungai Lukulo bagian hulu dan 1 lokasi di sungai induk Lukulo di Bendung kaligending. per lokasi berkisar antara 10 – 15 sample air tergantung dari penurunan tinggi muka air antara  3 – 5 cm.

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain berupa ; meteran 50 meter, digunakan untuk mengukur lebar penampang basah sungai ; stopwatch, digunakan untuk mengukur waktu aliran/arus air sungai ; suspended sediment sampler ; botol sampling ; kertas filter, digunakan untuk menyaring sampel sedimen melayang ; oven pengering, digunakan untuk mengeringkan sampel sedimen melayang ; GPS (Global Positioning System), digunakan dalam menentukan posisi data dan sample diambil ; Peta RBI Digital Skala 1:25.000 (Bakosurtanal) lembar Karangsambung ; kalkulator, digunakan untuk menghitung data hasil pengukuran ; seperangkat alat komputer dan printer.

Parameter – parameter yang diukur untuk keperluan dalam analisis ini, yaitu konsentrasi sedimen melayang/concentration of suspended sediment Cs (mg/l), debit limpasan air sungai/discharge Q (m3/detik) dan debit sedimen melayang/discharge of suspended sediment Qs (gr/detik). Beberapa tahapan untuk menentukan nilai – nilai Q, Cs, dan Qs menggunakan rumus sebagai berikut:

Analisis Beban Endapan Layang (BEL) dilakukan dengan cara penentuan konsentrasi yang dihitung dengan memakai persamaan sebagai berikut (Chow,1964) :

Cs = G2 – G1 ……………………………………………………………….. (1)

V

Keterangan :

Cs = konsentrasi sedimen (mg/liter)

G1 = berat kertas filter (mg)

G2= berat sedimen dan kertas filterdalam kondisi kering (mg)

V   = volume contoh sedimen (liter)

Debit Limpasan Air Sungai (DLAS) diperoleh dengan cara pengukuran luas penampang basah limpasan air sungai dan kecepatan limpasan air sungai pada masing-masing seksi tempat pengukuran dan pengambilan contoh yang telah ditentukan, yang perhitungannya menggunakan persamaan umum DLAS (Chow, 1959) yaitu :

Q = V A……………………………………………………………….. (2)

Keterangan :

Q = debit limpasan air sungai (m3/detik)                        A = luas penampang basah

V = kecepatan limpasan air sungai (m3/detik)             limpasan air sungai (m2)

Prediksi laju pengendapan dapat diprediksi dengan menggunakan persamaan debit sedimen Qs (gram/detik), adapun persamaan umum hubungan keeratan antara Q dan Qs (Gregory and Walling, 1976) yaitu:

Qs = Q Cs ……………………………………………….. (3)

Keterangan :

Qs = debit sedimen air sungai (gr/detik) Cs = konsentrasi sedimen (mg/liter)

Q = debit limpasan air sungai (m3/detik)

Material dasar yang terdapat di sepanjang saluran Sungai Lukulo menggambarkan bahwa telah terjadi proses-proses agradasi (erosi dan gerakan massa tanah/batuan) yang intensif di daerah hulu. Pengendapan yang berlebih di sepanjang saluran sungai akan mengakibatkan berkurangnya kapasitas saluran sungai. Proses agradasi yang mempunyai laju lebih besar daripada laju pembentukan tanah akan mengakibatkan timbulnya lahan-lahan di daerah hulu yang mempunyai ketebalan tanah tipis dengan sifat-sifat yang kurang dapat mendukung untuk kegiatan produksi. Dari sudut hidrologis keberadaan lapisan tanah yang tipis dalam jumlah yang besar akan menyebabkan problem banjir yang serius di daerah hilir karena sebagian besar hujan akan langsung menjadi aliran permukaan.

Daerah hulu Sungai Lukulo telah berkembang menjadi daerah permukiman pedesaan dengan hampir seluruh penduduknya menggantungkan pada sektor pertanian. Seiring dengan perkembangan jumlah penduduknya maka lahan pertanian yang tersedia menjadi semakin terbatas. Kerusakan lahan sebagai konsekuensi pemanfaatan lahan-lahan marginal hampir tidak dapat dihindari. Hilangnya lapisan tanah atas karena erosi akan menyebabkan produktivitas tanah semakin menurun, selain itu dengan banyaknya tanah tergerus erosi akan meningkatkan muatan sedimen pada aliran sungai dan selanjutnya muatan sedimen ini akan diendapkan pada bendung sungai, sehingga akan lebih cepat mengalami pendangkalan.

puguh dwi raharjo. sedimentasi DAS Lukulo Hulu

Berdasarkan hasil perhitungan debit aliran dan data tinggi muka air yang tercatat dalam pengukuran 5 menitan pada waktu banjir, di outlet sub DAS Lukulo hulu , maka dapat dibuat suatu hubungan antara debit aliran dengan tinggi muka air, yang disebut rating curve. Hasil perhitungan tinggi muka air dan debit dari sub DAS Lukulo hulu yang terdiri dari 6 anak sungai yaitu Sungai. Maetan, Sungai Loning, Sungai Lokidang, Sungai Mondo, Sungai Cacaban dan Sungai Gebang telah diterapkan dalam bentuk grafik yang dapat  dilihat pada gambar diatas. Adapun persamaan debit aliran dapat dilihat pada persamaan masing-masing sungai diatas. Dari hasil ploting dan perhitungan debit yang dituangkan dalam bentuk grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa umumnya hubungan antara tinggi muka air dan debit di sub DAS Lukulo hulu membentuk garis eksponensial , hal ini berarti bahwa semakin tinggi muka air sungai semakin besar debit yang dihasilkan secara eksponenensial. Sebagai contoh di Sungai Maetan TMA (0,6m) debit 20 m3/det, sedangkan pada TMA ( 1,2m) sekitar 110 m3/det, karena dengan naiknya tinggi muka air luas perimeter basah akan bertambah luas dan debit bertambah cepat.

Berdasarkan dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat bahwa muatan sedimen terbesar terdapat pada Sungai Gebangan, Cacaban dan Sungai loning yaitu sebesar 96,43 ton/Ha/th, 65,65 ton/Ha/th dan 45,96 ton/Ha/th. Hal ini sesuai dengan perkiraan perhitungan hasil erosi di daerah tersebut merupakan daerah yang mempunyai erosi yang  termasuk kelas berat. Sedangkan laju pengendapan terkecil di sungai Mondo dan sungai Maetan hal ini dapat diperkirakan karena di daerah tersebut hulu sungainya masih mempunyai hutan yang cukup baik sehingga masih dapat untuk menyimpan air tanah dengan cukup baik. Jumlah total muatan sedimen di setiap sub DAS (Maetan, Loning, Lokidang, Mondo, Cacaban dan Gebangan) adalah 278,68 ton/ha/th, tetapi muatan sedimen yang di ukur pada outlet sungai DAS Lukulo hulu yang terdapat di Bendung Kaligending hanya sekitar 194,43 ton/ha/th maka masih ada selisih sekitar 84,25 ton/ha/th, ini diperkirakan karena banyak yang mengendap di perjalanan air dari hulu ke Kaligending.

***

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Pengukuran Laju Pengendapan Dalam Penentuan Toleransi Penambangan Sirtu Di DAS Lukulo Jawa Tengah. https://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/05/29/pengukuran-laju-pengendapan-dalam-penentuan-toleransi-penambangan-sirtu-di-das-lukulo-jawa-tengah/


About this entry