Pemetaan Potensi Rawan Banjir Berdasarkan Kondisi Fisik Lahan Secara Umum Pulau Jawa


puguh dwi raharjo .bumiFloods is one of the natural phenomenon which happened in jawa island. Physical characteristic Approach of regional potencies can be used to floods hazard mapping. Parameter which used in floods hazard mapping is landform (geomorfologi), mains rock type, soil type, slope area and input by rainfall. Floods are output of natural process which caused by the existence of input (rainfall). Rainfall are especial factor which cause the happening of floods. Usage Of Geography Information System ( GIS ) can be used for overlay by various parameter supporters of cause of floods

Banjir merupakan salah satu fenomena yang sering terjadi di Pulau Jawa. Pendekatan kakarteristik fisik adalah potensi kawasan yang dapat digunakan dalam pemetaan bencana banjir. Parameter yang digunakan dalam pemetaan bencana banjir adalah bentuklahan (geomorfologi), tipe batuan induk, jenis tanah, kemiringan lereng, dan hujan sebagai input utamanya. Banjir merupakan salah satu keluaran dari proses alam yang disebabkan oleh adanya input berupa hujan. Hujan merupakan faktor utama yang mengakibatkan banjir. Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menumpangsusunkan berbagai parameter yang mengakibatkan banjir.

Indonesia Negara agraris yang mempunyai dua jenis musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kedua musim tersebut memberikan gambaran bahwa di Indonesia terdapat keseimbangan musim yang saling berinteraksi. Waktu musim yang terjadi pada dasarnya sama dalam pembagiannya. Pada saaat terjadi musim penghujan air-air akan mengisi cekungan-ekungan tanah, tertahan dalam tumbuhan-tumbuhan serta tertampung dalam tanah. Sehingga pada musim kemarau simpanan air yang tertampung dalam tanah dapat digunakan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Siklus-Hidrologi

Kondisi sekarang di Indonesia memiliki musim kemarau yang relatif lama dibanding dengan musim penghujan. Hal tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi oleh kondisi permukaan. Tanaman-tanaman yang berfungsi sebgai penyaring udara semakin berkurang menjadikan udara semakin panas. Permukiman yang padat semakin menjadikan polusi udara semakin besar sehingga titik-titik uap air akan saling berikatan membentuk ikatan kovalen karena adanya inti kondensasi dari berbagai polusi tersebut.

Bentukan-bentukan permukaan bumi mencirikan kondisi permukaan bumi baik secara proses pembentukannya dari dalam dan proses yang membentuk dari luar. Proses yang membentuk dari luar tidak lepas dari tenaga yang memberinya, yaitu dalam hal ini adalah air. Bentukan-bentukan permukaan tersebut dapat digunakan untuk identifikasi kejadian yang telah lama dan sering terjadi. Misalnya dalam bentuklahan tanggul alam merupakan akumulasi pengendapan dengan kondisi topografi yang lebih tinggi dari pada permukaan sekitarnya dari proses fluvial atau sungai yang dahulu pernah mengalami banjir dengan frekuensi yang relatif tinggi.

Ketika penduduk masih mempunyai ruang gerak yang luas, masyarakat masih dapat menentukan lokasi yang cocok untuk tempat tinggal, seperti pada bentuklahan tanggul alam. Keadaan sekarang dengan penduduk masyarakat yang relatif padat mulai mencari tempat tanpa memperhitungkan kondisi permukaannya. Bentuklahan di dataran banjir seharusnya tidak diperuntukkan untuk pemukiman bahkan masih ada juga masyarakat yang membuat tempat tingga di bibir sungai yang selain menghambat aliran juga akan menjadikan bahaya bagi masyarakat itu sendiri. Dengan mengetahui lokasi dari daerah-daerah yang rawan terhadap bahaya banjir, dimaksudkan untuk lebih memberikan gambaran bahwa masyarakat akan lebih tanggap terhadap bencana yang mungkin akan dialami dan juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pembangunan dalam berbagai sudut pandang ilmu.

Bencana banjir selain dari faktor hujan sebagai input, karakteristik fisik lahan juga berperan dalam menentukan tingkat kerawanannya. Permukaan bumi dibagi dalam zonasi-zonasi bentuklahan. Dari bentuklahan-bentuklahan tersebut mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda-beda sehingga peruntukan serta fungsinya juga berbeda. Untuk kajian tentang banjir bentuklahan mempunyai peranan yang cukup penting, hal tersebut dikarenakan bentuklahan merupakan salah satu wahana tempat berlangsungnya proses air mengalir yang berasal dari input hujan sampai ke laut. Bentukan-bentukan dari permukaan yang berbeda memberikan arti bahwa permukaan tersebut terkena suatu tenaga yang prosesnya berulang-ulang sehingga memberikan ciri dan karakter yang berbeda. Seperti misalnya untuk bentuklahan fluvial terdapat beberapa macam unit bentuklahan yang proses pembentukannya berbeda, dalam unit bentuklahan kipas alluvial memberikan gambaran bahwa bentuklahan tersebut dipisahkan oleh suatu permukaan yang jelas dan dengan terdapat sungai yang melewatinya, pada unit bentuklahan tersebut pernah mengalami banjir, sehingga endapan yang terbentuk membentuk suatu permukaan.

Material-material yang terjadi merupakan suatu endapan dengan bahan yang relatif halus. Apabila dilihat dari tingkat kondisi air tanah, maka unit bentuklahan kipas alluvial merupakan daerah dengan tingkat potensi air tanah yang cukup banyak, sehingga lokasi tersebut merupakan daerah yang subur. Unit bentuklahan dataran banjir merupakan suatu daerah di sekitar sungai dan sering terkena banjir. Daerah tersebut merupakan wilayah luapan sungai. Dari contoh-contoh tersebut maka suatu bentuklahan sangat dominan dalam mempengaruhi wilayah untuk dapat terlanda bahaya banjir.

321Dengan mempertimbangkan kondisi bentuklahan yang ada maka karakteristik fisik lahan pada umumnya dapat diketahui. Kajian mengenai bentuklahan sekaligus dapat mewakili kondisi kemiringan lereng, kondisi drainase dan secara umum dapat juga mengenai kondisi tanah yang ada. Secara sosial ekonomi karakter penduduk juga akan terpengaruhi dengan keberadaannya di dalam lokasi bentuklahan. Letak dan lokasi bentuklahan tersebut dapat digunakan sebagai salah satu parameter wilayah yang berpotensi banjir secara umum dan dapat dipetakan.

Faktor yang kedua yang juga memberikan pengaruh yang besar terhadap terjadinya banjir adalah penggunaan lahan. Penggunaan lahan berfungsi sebagai parameter terhadap air untuk dapat mengalir pada permukaan dan meresap kedalam tanah dengan nilai dan jumlah yang besar. Penggunaan lahan berupa hutan akan cenderung menampung air-air hujan yang jatuh pada tajuk-tajuknya dan cenderung banyak yang tersimpan dalam tanah. Penggunaan lahan permukiman air hujan akan cenderung banyak yang mengalir sebagai aliran permukaan dari pada air hujan yang meresap ke dalam tanah, hal tersebut dikarenakan permukaan tanah sudah banyak tertutup oleh bangunan-bangunan dan kondisi tanah yang relatif padat sehingga sangat kecil air hujan yang dapat meresap ke dalam tanah.

Aliran-aliran permukaan yang terjadi juga harus terdapat halangan sebelum masuk pada sistem sungai, baik berupa semak belukar ataupun vegetasi-vegetasi pada penggunaan lahan pada tegalan dan kebun campur. Penggunaan lahan yang bermacam-macam tersebut mempunyai nilai tersendiri dalam mempengarhi terhadap laju air. Dengan berdasar pada sifat air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, maka faktor kemiringan juga mempengaruhi terhadap tingkat kerawanan banjir yang ditunjang juga jenis tanah berpengaruh pada tingkat permeabilitas permukaan. Empat faktor karakteristik fisik lahan yang terjadi saling berinteraksi dan memberikan pengaruh terhadap kondisi air permukaan yang menyebabkan banjir.

puguh-dwi-raharjo-banjir-pulau-jawa

Dalam pembuatan peta kerawanan banjir tersebut merupakan rangkaian dari tumpang susun dari kelima parameter pemicu terjadinya banjir, dari kelima faktor tersebut peranan yang cukup besar adalah pada tingkat curah hujan yang ada. Untuk menghasilkan daerah yang rawan terhadap banjir merupakan daerah dengan kondisi bentuklahan yang merupakan dataran banjir dengan kemiringan lereng rendah, curah hujan yang tinggi serta kemampuan tanah dan batuan dalam meloloskan air ke dalam bawah permukaan sangat kecil.

Peta kerawanan tersebut tingkat daerah yang paling rawan terhadap banjir adalah sebagian wilayah Jakarta, jawa tengah pesisir selatan, banten, semarang sampai dengan jepara, Surabaya dan sekitarnya serta sebagian daerah pasuruan dan probolinggo. Secara umum pulau jawa merupakan wilayah yang berpotensi terhadap banjir. Hasil dari pemetaan rawan banjir tersebut akan lebih detil dan baik apabila ditambahkan parameter-parameter lainnya seperti kerapatan aliran, karakteristik sungai, penggunaan lahan yang ada, serta penambahan analisa hujan.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Pemetaan Potensi Rawan Banjir Berdasarkan Kondisi Fisik Lahan Secara Umum Pulau Jawa. https://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/05/29/pemetaan-potensi-rawan-banjir-berdasarkan-kondisi-fisik-lahan-secara-umum-pulau-jawa/


About this entry