Pemetaan Kerentanan Gerakan Tanah Dengan Analisis Sistem Informasi Geografis


puguh dwi raharjo .bumi

Spatial data is a data that contains an image, in this case is a quantitative map (attribute) and qualitative (map). Input from a form of spatial data is an image / photo air / ground surveys conducted a population of scale and then poured in a picture of a map. Advantage of spatial data is to be knowing distribution of data and also data can be modeled in accordance with the desire so easy to do the analysis. Spatial data processing in this study using the indirect method is the method of stacking overlap (overlay) by first giving the value / score of each parameter. Parameters of land-use management based on the analysis conducted (vegetation), gravity load, and water porusivitas in each type of land use. Resulting from the analysis that the type of residential land use is a kind of ground motion parameters of which have high sensitivity due to this lack of management (vegetation) is effective, has a heavy load force, and has porusivitas water level in the low ground. Type the second land use that has been the movement sensitivity is rice field soil. Rice has a good management but porusivitas level into the ground water is very low so that the load becomes heavier. Type of land usage has a low sensitivity is garden land, fields, dry land. Land use, land use management has been a burden that is not too heavy and the ability of water to seep into the soil easily. Types of land use parameters that have very low sensitivity in the forms of forest land. Forest has a good vegetation management, soil type and relatively stable porusivitas water into the ground very well. From the resulting map will provide a picture that has spread defined types of land use and also the value of sensitivity to soil movement. This value is also a score. Each type of land use has a different score will depend on the ease of ground movement. Parameter use of this land is the last deciding factor in determining the ground motion process, so in this study in order to obtain a weighted value of each parameter multiplied by the weight of interest in accordance with the order of the sensitivity of each parameter.

The second parameter is the movement of soil slope. Processing spatial data obtained from the slope of the quantitative data that is converted to spatial data is qualitative. To get the slope polygon map of contour lines is converted to a TIN (3 Dimensional appearance) and then converted into grid-grid and made reclassification. Each pixel in grid value in accordance with the altitude. Slope parameter is one trigger of the ground motion. This is because the steep slope of a material that is above the surface becomes easier to fall / slip downward because of gravity force. Pengkelasan slope based on the ease of the ground motion, the higher the grade the slope the greater the slope. The weight of importance given to this slope parameter is 2 or level is. The third parameter in relation to the land movement is the thickness of the soil. The thickness of this soil can be measured by an indirect way, namely by knowing the soil type and slope of the slope. Semaki slope of the ramps will be more sloping land due pegendapan, agradasi above ground from the region. Each class was given the thickness of the soil niliai / kemudahanya score according to the land movement. Weight value for the thickness parameters of this land as belonging to the last one and land use parameters given the value 1 so that its impact on soft ground movement. This parameter determines the largest ground motion process is the condition of Stratigraphy (typology of vulnerability slope), this parameter can not be separated from the geological conditions. Stratigraphy Pengkelasan the parameters are based on the criteria of slick / slicing on the surface, the soil contained perlapisan above with an unstable condition, and the slope out appearance. The weight of importance given to these parameters is 3 Stratigraphy of the highest value of all the parameters that trigger the occurrence of ground motion. To obtain maps maps maps of land movement is done stacking overlap (overlay) and do a query, the calculation of the total score is multiplied by the weight of interest to obtain the value / weighted results.

Data spasial merupakan suatu data yang berisikan suatu gambar, dalam hal ini adalah peta yang bersifat kuantitatif (atribut) dan kualitatif (peta). Input dari sebuah data spasial yaitu berupa citra/foto udara/survey lapangan yang dilakukan suatu pen-skala-an dan kemudian dituangkan dalam suatu gambaran berupa peta. Keunggulan dari data spasial adalah dapat mengetaui sebaran dari data dan juga data dapat dimodelkan sesuai dengan keinginan sehingga mudah untuk dilakukan analisis. Pengolahan data secara spasial pada penelitian ini menggunakan metode tidak langsung yaitu dengan metode tumpang susun (overlay) dengan terlebih dahulu memberikan nilai/skor dari setiap parameter.

Menurut Van Zuidam (1983) gerakan tanah merupakan terminology umum semua proses dimana masa dari material bumi bergerak oleh gravitasi baik lambat atau cepat dari suatu tempat ke tempat lain. Proses gerakan tanah dipengaruhi oleh faktor/parameter penggunaan lahan, kemiringan lereng, ketebalan lapisan tanah, dan stratigrafi (geologi). Data-data dari setiap parameter tersebut dilakukan suatu analisis dan diberikan pengkelasan sesuai dengan kepekaan untuk terjadinya proses gerakan tanah.

Parameter penggunaan lahan dilakukan analisis berdasarkan pengelolaan (vegetasi), beban gaya berat, serta porusivitas air dalam setiap jenis penggunaan lahan. Dari analisis yang dihasilkan bahwa jenis penggunaan lahan pemukiman merupakan jenis dari parameter dari gerakan tanah yang mempunyai kepekaan tinggi hal tersebut dikarenakan tidak adanya pengelolaan (vegetasi) yang efektif,  mempunyai gaya beban yang berat, serta mempunyai tingkat porusivitas air ke dalam tanah rendah. Jenis penggunaan lahan yang kedua yang mempunyai kepekaan sedang terhadap gerakan tanah adalah lahan sawah. Sawah mempunyai pengelolaan yang baik akan tetapi tingkat porusivitas air ke dalam tanah sangat rendah sehingga beban menjadi lebih berat. Jenis pengunaan lahan yang mempunyai kepekaan rendah adalah lahan kebun, ladang, lahan kering. Penggunaan lahan-penggunaan lahan tersebut mempunyai pengelolaan yang sedang dengan beban yang tidak terlalu berat dan kemampuan air untuk meresap kedalam tanah mudah. Jenis parameter penggunaan lahan yang memiliki kepekaan sangat rendah yaitu berupa lahan hutan. Hutan mempunyai pengelolaan vegetasi yang baik, dengan jenis tanah yang relative stabil dan porusivitas air ke dalam tanah sangat baik.

Dari peta yang dihasilkan akan memberikan sebaran gambaran yang telah terdefinisikan jenis penggunaan lahan dan juga nilai kepekaan terhadap gerakan tanah. Nilai ini disebut juga suatu skor. Setiap jenis penggunaan lahan memiliki skor yang berbeda tergantung akan kemudahan terhadap gerakan tanah. Parameter penggunaan lahan ini merupakan faktor penentu terakhir dalam menentukan proses gerakan tanah, sehingga dalam penelitian ini agar diperoleh nilai yang tertimbang setiap parameter dikalikan dengan bobot kepentingan sesuai dengan urutan kepekaan setiap parameter.

Parameter kedua proses gerakan tanah adalah kemiringan lereng. Pengolahan data spasial berupa kemiringan diperoleh dari data kuantitatif yang dirubah menjadi data spasial yang bersifat kualitatif. Untuk mendapatkan poligon peta kemiringan lereng garis kontur dirubah menjadi TIN (kenampakan 3 Dimensional) kemudian diubah menjadi grid-grid dan dilakukan reklasifikasi. Setiap pixel dalam grid memberikan nilai sesuai dengan ketinggian tempat.

Kemiringan lereng merupakan salah satu parameter pemicu terjadinya gerakan tanah. Hal tersebut karena semakin terjal suatu lereng material yang ada diatas permukaan akan semakin mudah untuk jatuh/tergelincir ke bawah karena adanya gaya grafitasi. Pengkelasan kemiringan lereng mendasarkan pada kemudahan untuk menjadi gerakan tanah, semakin tinggi kemiringan kelas lereng akan semakin besar. Bobot kepentingan yang diberikan pada parameter kemiringan lereng ini adalah 2 atau tingkat sedang.

Parameter yang ketiga dalam kaitannya dengan gerakan tanah adalah ketebalan tanah. Ketebalan tanah ini dapat dilakukan pengukuran dengan cara tidak langsung, yaitu dengan mengetahui jenis tanah dan kemiringan lerengnya. Kemiringan lereng yang semaki landai maka tanah akan semakin landai karena adanya pegendapan, agradasi tanah dari daerah diatasnya. Setiap kelas ketebalan tanah diberikan niliai/skor sesuai dengan kemudahanya untuk menjadi gerakan tanah. Nilai bobot untuk paramater ketebalan tanah ini tergolong yang terkahir seperti parameter penggunaan lahan dan diberikan nilai 1 sehingga pengaruhnya terhadap gerakan tanah ringan.

Parameter terbesar yang sangat menentukan proses gerakan tanah adalah kondisi stratigrafi (tipologi kerentanan lereng), parameter ini tidak lepas dari kondisi geologi. Pengkelasan  pada parameter stratigrafi ini didasarkan pada kriteria-kriteria adanya bidang lincir/slicing pada permukaan, adanya perlapisan yang terdapat tanah diatasnya dengan kondisi yang tidak stabil, serta kenampakan lereng keluar. Bobot kepentingan yang diberikan pada parameter stratigrafi ini adalah 3 yaitu nilai paling tinggi dari semua parameter yang memicu terjadinya gerakan tanah. Untuk mendapatkan peta gerakan tanah peta peta tersebut dilakukan tumpang susun (overlay) serta dilakukan query, perhitungan dari jumlah skor dikalikan dengan bobot kepentingan untuk mendapatkan nilai/hasil yang tertimbang.

Komponen yang ada di dalam SIG mencakup tiga hal, yaitu input, proses, dan output. Input dapat berupa bahan data berupa citra/foto udara dan data primer dari lapangan yang dilakukan intepretasi serta digitasi, dalam penelitian ini digunakan diqityzing on screen. Proses dalam SIG mencakup suatu teknik query dari parameter-parameter input yang dilakukan tumpang susun (overlay). Untuk melakukan analisis pada peta terlebih dahulu dilakukan penyamaan koordinat serta sistem proyeksi setiap parameter peta. Di dalam penelitian ini digunakan koordinat UTM (Universal Trade Mercator) dengan tujuan agar dalam perhitungan luasan didapatkan nilai yang akurat. Pada query dilakukan suatu perhitungan data baik berupa penjumlahan, pengurangan, pembagian serta perkalian nilai dari peta. Sebagai output yaitu berupa data peta yang disajikan guna tujuan tertentu.

alur penelitian gerakan tanah

Metode yang digunakan dalam analisis SIG mengenai kerentanan terhadap bahaya gerakan tanah di wilayah CAG karangsambung ini adalah metode tidak langsung, yaitu suatu metode yang digunakan dengan malalui beberapa pendekatan berdasarkan parameter yang mendukung. Parameter-parameter tersebut antara lain : tipologi lereng rentan, jenis penggunaan lahan, kemiringan lereng dan ketebalan tanah diberikan suatu nilai (skor) sesuai dengan tingkat kerentanannya.

Rumus umum yang digunakan untuk membuat pemetaan gerakan tanah pada penelitian ini mengacu pada rumus yang dikembangkan oleh UGM ;

n

Σ       ( B1 x I1)

I = 1

…………………………………………………………………….(1)

dimana :

B = Bobot kepentingan

I = Intensitas bobot (skor)

Nilai bobot tertinggi pada parameter geologi, kemiringan lereng merupakan bobot tertinggi kedua dan terakhir adalah adalah parameter penggunaan lahan dan ketebalan tanah yang mempunyai bobot sama.

gertan2009

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Pemetaan Kerentanan Gerakan Tanah Dengan Analisis Sistem Informasi Geografis. http://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/09/17/gerakan-tanah/

About these ads

About this entry