Penggunaan Data Penginderaan Jauh Dan SIG Untuk Pemantauan Kekritisan Di Das Luk Ulo Hulu Jawa Tengah


puguh dwi raharjo .bumiLukulo Upstream Watershed is watershed which located in Central Java with coordinate 340.000  – 365.000 mT and 916.0000 – 917.5000 mU. Human activities  which still immeasurable influence the watershed condition, its exploitation of natural resouces (rocks, sand). In Lukulo Upstream Watershed there are seven sub  watershed they are Lukulo sub watershed, Lokidang sub watershed, Maetan watershed, Gebang watershed, Loning watershed, Mondo watershed, and Cacaban watershed. Calculation using GIS (Geographic Information System) for  deliberated erosivity index formula found that Lokidang watershed is first priority of watershed  criticaly, value the deliberated erosivity index equal to 1082,62 broadly 3602,705 hectare. While from viewpoint  land cover (vegetation)  with remote sensing method transformation using NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Gebang watershed, Cacaban watershed, and Lukulo watershed is watershed which is very easy of damage (erosion) because the land surfaces which do not closed with vegetatation so erosion is easy.

puguh dwi raharjo. DAS KritisDAS Lukulo Hulu adalah DAS yang berada di Jawa Tengah dengan koordinat 340.000 – 365.000 mT dan 916.0000 – 917.5000 mU. Aktifitas masyarakat dimungkinkan sangat mempengaruhi kondisi DAS, yaitu dengan ekploitasi sumberdaya alam (batu, pasir). Pada DAS Lukulo Hulu mempunyai 7 (tujuh) Sub DAS yaitu, DAS Lukulo, DAS Lokidang, DAS Maetan, DAS Gebang, DAS Loning, DAS Mondo, dan DAS Cacaban.  Pehitungan Indeks Erosivitas Tertimbang menggunakan SIG (Sistem Informasi Geografis) memperlihatkan bahwa DAS Lokidang merupakan DAS kritis yang mempunyai prioritas pertama, nilai dari total Indeks Erosivitas Tertimbangnya sebesar 1082, 62 dengan luas DAS sebesar 3602, 705 hektar. Dari sudut pandang penutup lahan (vegetasi) dengan metode penginderaan jauh menggunakan transformasi NDVI DAS Gebang, DAS Cacaban, dan DAS Lukulo merupakan DAS yang sangat mudah rusak (erosi) hal tersebut karena permukaan lahannya tidak terdapat vegetasi sehingga mudah tererosi.

Analisa kekritisan lahan dapat dilakukan dengan cara menilai 4 (empat) sifat biogeofisik lapangan. Hasil dari tumpangsusun keempat faktor, yaitu faktor topografi, faktor kemiringan, faktor drainase, dan faktor penggunaan lahan akan dihasilkan satuan lahan.4

LU = {(T + S)D}/L ……………………………………………………………….. (1)

di mana :

Lu        = Satuan Lahan

T          = Nilai skor faktor topografi

S          = Nilai skor faktor kemiringan

D         = Nilai skor bentuk drainase

L          = Nilai skor penggunaan lahan

Untuk mengetahui indek erosivitas tertimbang dalam DAS, maka digunakan rumus sebagai berikut (Sudarmadji, 1996) 5

ERI     = Lui x Bi ………………………………………………………………….. (2)

ERI      = Indek Erosivitas Tertimbang

Lui       = Nilai Satuan Lahan

Bi         = Persentase Bobot (luas tiap satuan lahan/luas DAS x 100%)

Data raster berupa citra satelit dikoresi geometrik agar sesuai dengan kondisi di permukaan, dan koreksi radiometrik agar piksel-piksel dalam citra bebas dari pengaruh awan pada saat perekaman data, sehingga data dapat digunakan untuk  intepretasi lebih lanjut. Terhadap data citra satelit landsat TM diintepretasi secara manual dan secara digital. Intepretasi penggunaan lahan secara digital menggunakan  klasifikasi terselia (minimum distance). Faktor kemiringan, topografi serta bentuk drainase dilakukan dengan pemodelan menggunakan SIG dari input data dasar berupa data kontur. Perubahan data kontur menjadi sistem grid dimaksudkan untuk membuat arah aliran air permukaan.

Data vektor berupa data garis kontur yang menghubungkan ketinggian tempat yang sama dirubah menjadi kenampakan 3 dimensional kemudian diperlukan suatu reklasifikasi data untuk memperoleh spasial yang berupa grid yang setiap pikselnya mempunyai nilai. Pemodelan data vektor dalam  penelitian ini menggunakan grid sistem untuk analisis kelerengan, topografi, bentuk drainase, dan pola-pola pengaliran. Setiap parameter yaitu topografi, kemiringan, kerapatan drainase serta penggunaan lahan diberikan nilai dan skor berdasarkan kelasnya. Analisis yang dilakukan merupakan analisis spasial dari intepretasi citra dan pengolahan menggunakan SIG.

Persebaran untuk topografi bergelombang ini di daerah upstream yang merupakan daerah struktural patahan dengan batuan yang komplek. Topografi berbukit kecil, berbukit sedang dan berbukit berada pada kawasan struktural lipatan, persebarannya berada tepat pada perpindahan antara zona Pratersier dan Tersier batuan yaitu di sebelah selatan sungai dengan luasan sebesar 4847,80 hektar. Topografi berombak mempunyai luasan sebesar 4859,90 hektar dengan penyebarannya berada pada daerah antiklin Formasi Waturanda. Daerah ini mempunyai jenis batuan berupa batuan sedimen yaitu batu pasir dan batu breksi. Topografi datar berada di sekitar bentuk lahan fluvial dengan material berupa lempung, daerah ini merupakan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap banjir dan juga pada lokasi ini banyak terdapat sedimen-sedimen yang terendapkan.

Kemiringan terjal hanya terdapat dipunggung bukit pada puncak antiklin di Formasi Waturanda, sedangkan kemiringan sangat curam terdapat di bukit-bukit yang belum banyak mengalami proses denudasi. Persebaran kemiringan lereng curam dan agak curam hampir memperlihatkan suatu keseragaman, yaitu berada pada bentukan lahan struktural, akan tetapi untuk kemiringan lereng curam sebagian besar mengelompok di bagian atas pada DAS, dan kemiringan lereng agak curam berada pada bagian tengah pada DAS. Kemiringan landai terdapat di sebagian sepanjang sungai, daerah aluvial, serta wilayah lembah antiklin. Wilayah dengan kemiringan landai ini merupakan suatu wilayah yang sering terlanda banjir ketika musim penghujan, dan juga terdapat banyak material endapan di sekitar kanan-kiri sungai.

Faktor yang ketiga dalam menentukan kekritisan DAS ini merupakan faktor penggunan lahan. DAS Lukulo Hulu ini mempunyai berbagai macam jenis penggunaan lahan, sebagian besar jenis penggunan lahan masih berupa pertanian. Pertanian ini meliputi pertanian lahan basah, yaitu sawah tadah hujan dan sawah irigasi, sedangkan pertanian lahan kering meliputi tegalan dan kebun campur yang ditanami jenis tanaman buah-buahan, tanaman palawija. Pada DAS Lukulo Hulu ini masih juga terdapat hutan produksi yaitu berupa pohon pinus.

Faktor yang keempat dalam membuat nilai erosivitas tertimbang guna mengetahui tingkat kekritisan DAS adalah kondisi drainase sehingga diperlukan kerapatan aliran yaitu berupa percabangan sungai dalam setiap satuan lahan, terlihat bahwa luasan yang besar terdapat pada percabangan yang paling kuat yaitu > 10 seluas 19812,137 hektar, persebaran untuk percabangan paling kuat ini berada di daerah upstream. Percabangan 5 – 9 dengan luas 3272, 404 banyak terdapat di daerah dengan kemiringan curam, sedangkan percabangan sedang (3 – 4) seluas 837,095 hektar membentuk suatu pola seperti mencirikan zona batuan Tersier dan Pratersier.

Nilai indeks Erosivitas Tertimbang yang lebih besar dari 40 juga hanya terdapat di Sub DAS Lokidang. Desa-desa yang masuk pada Sub DAS Lokidang tersebut antara lain Argosoka, Ampelsari, Pasangkalan, sebagian desa Kebutuhjurang, sebagian desa Kebutuhduwur, dan sebagian desa Totogan. Lokasi Sub DAS Lokidang ini berada pada daerah Komplek Melange yang merupakan wilayah dengan batun pratersier yang keras dan terdapat berbagai macam jenis batuan.

Prioritas yang terakhir adalah Sub DAS Gebang yang berada di bagian hilir DAS. Luasan yang sangat kecil dan mempunyai bentuk DAS memanjang, sehingga waktu konsentrasi yang terjadi akan lambat dan hanya sedikit percabangan sungainya. Urutan prioritas kekritisan DAS tersebut seiring dengan tingkat luasannya, semakin luas Sub DAS maka jenis dari setiap parameter semakin komplek dan nilai yang dihasilkan semakin tinggi pula.

Untuk mengetahui kondisi tutupan kerapatan vegetasi di DAS Lukulo Hulu maka digunakan analisis transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Hasil yang didapat bahwa Digital Number hasil proses transformasi NDVI minimal -0.594 dan maksimal 0.398.

Tutupan lahan vegetasi jarang dan non vegetasi banyak ditemukan di Sub DAS Gebang, Sub DAS Cacaban, serta Sub DAS Lukulo, vegetasi sangat berpengaruh dalam menahan laju aliran permukaan, aliran permukaan yang tinggi meyebabkan tertorehnya permukaan lahan sehingga akan memperbesar laju erosinya. Hasil perhitungan untuk total Indeks Erosivitas Tertimbang untuk Sub DAS Gebang mempunyai prioritas terakhir, hal ini disebabkan karena Sub DAS Gebang mempunyai luasan yang kecil dan bentuk DAS yang memanjang, sehingga aliran air permukaan pada DAS tersebut lamban dan kecil untuk mencapau puncak debit.

***

Copyright

Puguh Dwi Raharjo. 2009. Penggunaan Data Penginderaan Jauh Dan SIG Untuk Pemantauan Kekritisan Di Das Luk Ulo Hulu Jawa Tengah.  http://puguhdraharjo.wordpress.com/2009/05/29/penggunaan-data-penginderaan-jauh-dan-sig-untuk-pemantauan-kekritisan-di-das-luk-ulo-hulu-jawa-tengah/


About this entry